· Meskipun tempatnya sangat jauh, ia tetap bersemangat untuk berguru kepada Nabi Khidir.Ia segera mencari Nabi Khidir karena ingin mendapatkan nugra- ha jati 'anugerah yang hakiki'.. Sunan Gunung Jati mendengar kabar bahwa Nabi Khidir berada di Bural Akbar, yakni berada di tanah Lutnat Agaib. Iabertemu dengan Nabi Khidir, sang Nabi mengangkatnya menjadi Wali. Iapun kemudian dibawa oleh Nabi Khidir untuk menemui Nabi Muhamad. Demikianlah kisah mengenai Sunan Gunung Jati yang dikisahkan dibebrapa naskah Cirebon, semoga kisah di atas dapat menghilangkan dahaga keingin tahuan anda seputar sejarah Sunan Gunung Jati secara ringkas Kisahperjumpaan sunan gunung jati dengan nabi khidir. Ada perasaan tenang dan tenteram dengan mencintai kekasih allah swt. Tetapi disebabkan bajet tidak mengizinkan, maka dibina sebuah masjid dengan 20 kubah. Kisah perjumpaan sunan gunung jati dengan nabi muhamad saw diceritakan dalam naskah mertasinga pupuh v.13 s/d v.22, kisah ini KisahPerjumpaan Sunan Gunung Jati Dengan Nabi Muhamad SAW diceritakan dalam Naskah Mertasinga Pupuh V.13 s/d V.22, kisah ini sebenarnya rentetan dari kisah pengembaraan Syarif Hidayatullah muda setelah beliau menemukan kitab usul kalam yang ditemukannya di Gedong Agung Istana Banisrail. WisataReligi Kali ini Membahas Kisah perjalanan syech syarif hidaytullah sunan gunung jati dalam mencari nabi muhammad saw yang akhirnya bertemu dengan nabi kisahsunan gunung jati dan nabi khidir adalah salah satu artikel yang paling banyak dicari dan diminati oleh banyak orang. Setiap orang mempunyai alasan dan kebutuhan tersendiri mengapa mencari artikel kisah sunan gunung jati dan nabi khidir di internet. Namun sayangnya, PORTALMAJALENGKA- Inilah kisah perjalanan spiritual Sunan Gunung Jati sebelum menjadi Sultan di Kesultanan Cirebon.. Dimana Sunan Gunung bertemu Nabi Khidir saat perjalanan menuju Cirebon dan ia diberi amanah untuk menjadi Wali. Portal Majalengka akan memberikan kisah keberhasilan Sunan Gunung Jati bertemu dengan Nabi Khidir dan Kesuksesan dalam memimpin kesultanan Cirebon dari Naskah Mertasinga. SunanGunung Jati Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sampaiakhirnya Nabi Khidir mengangkat Sunan Gunung Jati sebagai Wali Kutub. Dalam khazanah dan tradisi tasawuf istilah wali Qutub sangtalah terkenal. Baca Juga: INILAH SUMUR PITU Sunan Gunung Jati dan Pangeran Cakrabuana Dipercaya Memiliki Banyak Khasiat. Jika di Indonesia sendiri istilah ini sering melekat dalam tradisi masyarakat Nahdliyin. KisahSunan Gunung Jati Dan Nabi Khidir Yang.?? Thz7. Kisah Perjumpaan Sunan Gunung Jati Dengan Nabi Muhamad SAW diceritakan dalam Naskah Mertasinga Pupuh s/d kisah ini sebenarnya rentetan dari kisah pengembaraan Syarif Hidayatullah muda setelah beliau menemukan kitab usul kalam yang ditemukannya di Gedong Agung Istana Banisrail. Kitab tersebut dikisahkan ditulis dengan menggunakan tinta emas dan didalamnya membahas mengenai hakikat Nabi Muhammad dan menjelaskan mengenai Dzat Allah yang maha suci. Setelah membaca kitab tersebut, Syarif Hidayatullah muda begitu kuat hatinya ingin berjumpa dengan Nabi Muhamad. Waktu itu Syarif Hidayatullah berumur 12 Tahun. Penggalan Translit Naskah Mertasinga Tentang Perjumpaan SGJ Dengan Nabi Muhamad SAW Sebelum itu ayah Syarif Hidayatullah penguasa mesir dan Palestine Sultan Hud telah mangkat. Maka diputuskanlah kemudian yang menjadi penerus tahta adalah Syarif Hidayatullah karena beliau merupakan anak laki-laki pertama dari Sultan Hud dan Ratu Nyimas Larasantang Nama Larasantang diganti menjadi Sayarifah Mudaim setelah beliau menjadi Ratu. Baca Juga Keris Sangyang Naga, Pusaka Sunan Gunung Jati Kisah Wafatnya Sunan Gunung Jati Akan tetapi sebelum penobatan Syarif Hidayatullah sebagai Sultan dilaksanakan, Syarif Hidayatullah muda mengutarakan isi hatinya supaya di ijinkan mengembara mencari Nabi Muhamad SAW kepada ibunya. Alangkah terkaget-kagetnya Ibunda Syarif Hidayatullah, dalam keadaan itu kemudian Ibunda Syarif Hidayatullah berkata “Wahai anaku bukankah Nabi Muhamad telah wafat dan dikuburkan di Madinah, Anaku, bagaimana mungkin ananda bisa berjumpa dengan beliau?, sudahlah anaku, janganlah engakau pergi!” Mendapati gelagat aneh dari anaknya itu, Ratu Nyimas Larasantang merasa khawatir dan memberitahukan kepada patihnya yang bernama Patih Onka. Sang Patih kemudian membujuk Syarif Hidayatullah muda, bujuknya agar jangan mengembara, sebab Nabi Muhamad sudah wafat dan telah dikuburkan di Madinah lagipula penobatan Syarif Hidayatullah sebagai penguasa Banisrail segera dilaksanakan. Namun Syarif Hidayatullah sudah kuat hatinya, ingin mengembara mencari Nabi Muhamad, demikian katanya terhadap Sang Patih “Paman aku tidak mengangap beliau telah wafat, karena itu adalah urusan Allah yang bersifat maha pengasih. Apakah Paman pernah mendengar ada orang yang telah wafat kemudian datang menemui orang hiidup?, memang Allah itu maha kuasa. Susah atau mudahnya kita serahkan kepada Allah, begitu tambah Syarif Hidayatullah dengan keyakinan penuh” Stelah peristiwa itu, kemudian Syarif Hidayatullah muda meninggalkan Istana dan mengembara mencari Nabi Muhamd SAW. Dalam pengembaraanya itu Syrif Hidayatullah dikisahkan mengunjungi Makam Nabi Sulaiman di Pulau Majeti. Beliau juga kemudian terdampar di Jabal Kahfi, dan dalam perjalanan selanjutnya dimana Syarif Hidayatullah Muda dalam keadaan lelah setelah seratus hari seratus malam tak kunjung menemukan Nabi Muhamad SAW, Syarif Hidayatullah dibawa kedalam alam dimensi lain, beliau melihat alam nyawa dimana tempat berkumpulnya nyawa orang-orang yang telah wafat dalam perang sabil berada. Dalam alam Nyawa itu, Syarif Hidayatullah kemudian didatangi oleh Nabi Khidir, dan beliau mengabarkan kabar gembira kepada Syarif Hidayatullah, bahwa keinginannya untuk dapat bertemu Nabi Muhamad akan terlaksana, Sang Nabi Khidirpun kemudian mengangkat Syarif Hidayatullah menjadi Waliullah. Dengan menunggangi Kuda yang bernama Kuda Sembrani, Nabi Khidir kemudian membawa Syarif Hidayatullah melesat bagaikan kilat, tenggelam dalam ketidaktahuan arah, utara-barat-timur maupun selatan. Alam menjadi gelap gulita hingga akhirnya sampailah kepada suatu tempat yang terang benerang keduanya tiba di Gunung Mirah Wulung. Setelah Syarif Hidayatullah muda turun dari kudanya, kemudian Nabi Khidir meninggalkan beliu sambil berpesan, “Engkau tunggulah disini dengan sabar, nanti aka ada yang datang kepadamu, nanti akan kau lihat sendiri” Selang beberapa lama setelah masa penantian, datanglah seekor burung putih keluar dari puncak gunung mendatangi Pemuda Syarif dan kemudian membawanya naik kepuncak gunung Mirah Wulung. Syarif Hidayatullah muda dibawa ke Masjid Kumala. Tanpa diketahui kedatangannya, kemudian terlihat Rasullalah, cahayanya menyilaukan memancar menerangi alam sekelilingnya. Syarif Hidayatullah lalu menghambur untuk bersujud dihadapan Nabi, akan tetapi bahunya segera diangkat oleh Nabi, dan Sabdanya “Nanti kamu Kafir kalau menyembah sesama manusia.!, sebab sejak awalnya sujud itu hanya kepada Allah” Pemuda Syarif kemudian berkata “Hamba mohon Syafaat, baiat kepada sejatinya, semoga selamat dunia samppai akhirat”Kemudian Rasul Bersabda Alih Aksara Naskah Mertasinga Sabda/Nasihat Nabi Kepada SGJ Artinya “Hai anak muda, yang akan menjadi pengganti diriku. Ingatlah kamu selalu kepada sesama hidup. Karena hidup itu tidak berbeda, tidak bisa dibunuh karena sukmanya itu Allah. Jangan sampai nanti terlambat, hanya ada satu tak ada duanya, yaitu itulah engkau adanya. Namun lahir harus memaki Tirai, untuk meramaikan Negara, berikan petunjuk kepada hamba Allah, berhati-hatilah dalam tutur kata. Sempurnakanlah amal syariat yang utama dengan berbakti kepada ayah dan bunda, dan kunjungilah Ka’bah Allah, carilah guru yang saleh dan janganlah meninggalkan adat dunia, hanya itulah nasihatku” Maka selesai sudah baitanya Rasullallah. Syarif Hidayatullah pun kemudian bersukur karena tercapai sudah keinginanya yaitu berjumpa dengan Nabi Muhamad SAW. Setelah peristiwa itu kemudian Syarif Hidayatullah muda kembali ke Istana. Menemui Ibunya yang lama beliau tinggalkan. Akan tetapi ketika beliau berada di Istana, beliau selalu teringat akan nasihat Nabi agar supaya beliau menunaikan Haji dan mencari guru yang mulia, beliau pun kemudian berkelana kembali, sampai pada suatu hari beliau bertemu dengan 10 orang Yahudi. Kisah mengenai pertemuan itu, dikisahkan dalam artikel kami yang berjudul "Kisah Sunan Gunung Jati Dan 10 Orang Yahudi" Di kalangan para ulama khususnya ahli tarekat, terdapat kepercayaan bahwa Nabi Khidir masih hidup, dan akan terus hidup sampai kiamat datang. Nabi ini dinamakan Khidir yang berarti hijau karena kedatangannya selalu membawa kehijauan di sekitarnya, rumput yang awalnya kering akan menjadi hijau subur jika didatangi Nabi Khidir. Cerita tentang Nabi Khidir memang terdapat dalam Al-Qur’an Al-Kahfi ayat 65-82. Yakni bagaimana kisah Nabi Khidir yang mengajarkan ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa. Namun, asal usul dan kisah lainnya tentang Nabi Khidir tidak banyak disebutkan. Selain Khidir, ada tiga nabi lain yaitu Idris, Ilyas dan Isa, yang diyakini sebagai sosok yang tetap hidup atau abadi. Dalam khazanah Islam orang-orang yang dikisahkan pernah berjumpa Nabi Khidir adalah Rasulullah SAW, para sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan, Ibrahim At-Taimi, Umar bin Abdul Aziz, Ibrahim Al-Khawas, Bisyir Al-Hafi,Abdul Hakim At-Turmudzi, Abdul Malik Ath-Thabari, Abu Bakar Al-Kattani, Abu Abbas Al-Qashhab, Syekh Abdul Qadir Jailani, An-Nuri, Muhammad Suyah An-Naqshabandi, Abul Hasan Asy-Syadzali, Abu Su’ud bin Syibli, Abu Abdillah Al-Quraisyi, Muhyiddin Ibnu Arabi, dan Abul Abbas Al-Arabi. Jejak Nabi Khidir di Nusantara terdapat dalam sejumlah kisah auliya atau para wali seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati. Sedangkan kalangan ulama yang lebih mutakhir yang diceritakan pernah bertemu dengan Nabi Khidir antara lain, Syekhona Kholil Bangkalan dan Hadhratusy Syekh Hasyim Asy’ari, KH Munawwir Krapyak, KH Abdul Hamid Mbah Hamid Pasuruan, KH Muhammad Shiddiq Jember, Syekh Abu Ibrahim Woyla Aceh, KH Hamim Jazuli alias Gus Miek, dan lain-lain. Berikut ini kisah Syarif Hidayat, kelak bergelar Sunan Gunung Jati dan pendiri wangsa Cirebon dan Banten, yang bertemu Nabi Khidir. Syahdan, Syarif Hidayat di usianya yang masih muda menemukan sebuah kitab “Usul Kalam” Gedong Agung dalam Istana Banusrail. Kitab yang membahas hakikat Nabi Muhammad dan menjelaskan dzat Allah ini ditulis dengan tinta emas. Setelah itu timbullah hasrat dalam dirinya untuk bertemu Nabi Muhammad, dan meninggalkan negerinya yaitu Mesir. Padahal ia akan dinobatkan sebagai penguasa Banusrail, menggantikan ayahnya yang wafat. Ia pun minta izin kepaa ibunya, Nyai Larasantang yang tak lain adalah cucu Prabu Siliwangi. Bujukan ibu serta pamannya agar tidak meninggalkan Mesir untuk mencari Nabi Muhammad yang sudah wafat dan dikuburkan di Madinah, tidak mampu mencegah keinginan Syarif Hidayat. Syarif Hidayat memulai pengembaraannya dengan berziarah ke patilasan Nabi Musa dan Nabi Ibrahim di Mekah, tetapi belum juga memperoleh petunjuk. Perjalanan dilanjutkan ke pulau Majeti Majeti Mardada. Pulau ini dihuni oleh binatang buas dan berbisa yang sedang menjaga sebuah keranda biduri. Di sebuah cabang kayu yang tinggi, Syarif Hidayat melihat ada seorang pemuda bernama Syekh Nataullah sedang bertapa. Pemuda itu menjelaskan bahwa tidak ada harapan baginya untuk menemui orang yang sudah tiada, lebih baik berusaha mendapatkan cincin Mulikat yang berada di tangan Nabi Sulaiman. Ia menjelaskan bahwa barang siapa memiliki cincin Mulikat, ia akan menguasai seisi langit dan bumi, serta dihormati oleh umat manusia. Syarif Hidayat kemudian mengajak Syekh Nataullah bersama-sama mengambil cincin tersebut. Ketika Syarif Hidayat berada di makam Nabi Sulaeman, jenazah Nabi Sulaeman seolah-olah hidup dan memberikan cincin Mulikat kepadanya. Syekh Nataullah mencoba merebut cincin tersebut, tetapi tidak berhasil. Tiba-tiba meledaklah petir dari mulut Nabi Sulaeman sehingga yang sedang mengadu tenaga memperebutkan cincin tersebut terlempar. Syekh Nataullah melesat jatuh di Pulau Jawa, sedangkan Syarif Hidayat jatuh di Pulau Serandil. Di sana, ia melihat sebuah kendi berisi air surga yang sangat harum baunya. Kendi itu mempersilakan Syarif Hidayat meminumnya. Karena ia hanya menghabiskan setengahnya, kendi itu meramalkan bahwa kesultanan yang kelak akan didirikan olehnya tidak akan langgeng. Meskipun kemudian air kendi itu dihabiskan, namun yang langgeng hanyalah negaranya, bukan raja-rajanya. Setelah berkata demikian, kendi itu pun lenyap. Syarif Hidayat kemudian bertemu dengan Syekh Kamarullah. Atas anjurannya, Syekh Kamarullah pergi ke Jawa dan menetap di gunung Muria dengan gelar Syekh Ampeldenta. Suatu ketika, Syarif Hidayat bertemu dengan seorang wanita jelmaan Nabi Ilyas bernama Nyai Atma yang memberinya kue dan roti yang berkhasiat dapat berbicara berbagai macam bahasa, seperti Arab, Kures, Inggris, dan Turki. Nyai Atma menyarankan agar menangkap seseorang yang mengendarai kuda sembrani di angkasa. Seketika itu, di angkasa terlihat seseorang menunggang kuda yang tidak lain adalah Nabi Khidir. Syarif Hidayat segera mengejarnya dan dapat menangkap ekornya, namun dibantingkan oleh Nabi Khidir sehingga ia terjatuh di negeri Ajrak. Di hadapan raja negeri Ajrak bernama Abdullah Safar ia menceritakan maksudnya untuk mencari Nabi Muhammad. Oleh Abdullah Safar, ia diberi buah Kalmuksan. Saking nikmatnya memakan buah, membuat Syarif Hidayat terbius dan tidak sadarkan diri. Abdul Safar kemudian memanggil Patih Sadat Satir dan Osalasil untuk memasukkan Syarif Hidayat ke dalam masjid Sungsang. Dari masjid Sungsang, Syarif Hidayat “mikraj” ke langit dan menemui ruh orang-orang yang mati sabil, serta mukmin yang alim dan kuat beribadat, dari langit pertama hingga langit ke tujuh. Di langit kedua ia bertemu dengan ruh-ruh wanita yang setia dan patuh pada suami, di langit ketiga ia bertemu dengan Nabi Isa yang memberinya nama Syekh Syarif Iman Tunggal, di langit keempat ia bertemu dengan ribuan malaikat yang dipimpin oleh Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail. Malaikat Jibril memberi nama Syekh Kembar, Mikail memberi nama Syekh Surya, Israfil memberi nama Syekh Jabar, dan Izrail memberi nama Syekh Brahan. Di langit kelima ia bertemu dengan para nabi yang memberinya nama, Nabi Adam memberi nama Syekh Syarif Raja Wali, Nabi Ibrahim memberi nama Syarifullah, dan Nabi Musa memberi nama Syekh Ma’ruf. Syarif Hidayat selanjutnya melihat neraka dinding jalal, dan meniti sirathal mustaqim. Akhirnya ia tiba di langit ke tujuh dan melihat cahaya terang benderang. Di langit ketujuh, Syarif Hidayat bertemu dengan ruh Nabi Muhammad yang mengajarkan inti ajaran agama Islam, wejangan-wejangan, serta memberi jubah pakaian Rasulullah yang mempunyai sifat menyatu dengan Muhammad sipat tunggal lan Muhammad. Setelah mendapat wejangan dari ruh Nabi Muhammad, Syarif Hidayat turun kembali ke bumi dan tiba di Gunung Jati. Wallahu a’lam. Sumber Dadan Wildan, Sunan Gunung Djati, Petuah, Pengaruh, dan Jejak-Jejak Sang Wali di Tanah Jawa 2012.. Post Views 739